TTurikale Pesona
Budaya & Adat Bugis-Makassar Turikale: Tari Pakarena, Accera Kalompoang, tradisi Mappanre Tasi

Pakarena, Accera Kalompoang, dan Mappanre Tasi: Denyut Adat Bugis-Makassar di Turikale

Tari Pakarena, Accera Kalompoang, dan Mappanre Tasi hidup di Turikale, ibu kota Kabupaten Maros. Simak denyut adat Bugis-Makassar di tujuh kelurahannya.

Pakarena, Accera Kalompoang, dan Mappanre Tasi: Denyut Adat Bugis-Makassar di Turikale

Hal Penting

  • Turikale adalah ibu kota Kabupaten Maros, Sulawesi Selatan, dengan luas 29,93 km² dan tujuh kelurahan.
  • Nama Turikale berasal dari bahasa Makassar yang berarti Orang Dalam Diri (Keluarga Dekat).
  • Tari Pakarena adalah tarian tradisional Bugis-Makassar yang mengandalkan gerak tangan dan kipas.
  • Accera Kalompoang adalah tradisi pencucian benda pusaka kerajaan, biasanya digelar pada bulan tertentu.
  • Mappanre Tasi adalah tradisi menolak bala dengan melarung sesajen ke laut, bagian dari budaya pantai Sulawesi Selatan.

Turikale, Kota Kecil yang Menyimpan Tiga Denyut Adat

Di sudut Jalan Jenderal Sudirman, tepat di depan Kantor Bupati Maros, seorang penjual pisang epe mengipasi arang sambil sesekali melirik panggung kecil di seberang. Malam itu beberapa penari muda sedang berlatih gerak tangan lambat, gerak khas yang hanya ditemui di tarian Bugis-Makassar. Turikale, kecamatan paling kecil di Kabupaten Maros dengan luas 29,93 km², ternyata bukan cuma pusat pemerintahan. Namanya berasal dari bahasa Makassar, berarti Orang Dalam Diri atau Keluarga Dekat, dan dari tujuh kelurahan di dalamnya, denyut adat terus dipelihara meski gedung-gedung pemerintahan dan cabang perusahaan tumbuh di sekitarnya.

Tiga tradisi yang paling sering disebut warga ketika berbicara soal identitas Turikale adalah Pakarena, Accera Kalompoang, dan Mappanre Tasi. Ketiganya bukan sekadar pertunjukan, melainkan cara orang Bugis-Makassar di Turikale merawat ingatan kolektif.

Pakarena: Tarian Tangan yang Tak Pernah Berhenti

Tari Pakarena dikenal luas di Sulawesi Selatan. Gerakannya didominasi oleh olah tangan dan kipas, dengan langkah kaki yang nyaris tak beranjak dari tempat. Penari bergerak dalam formasi, kadang melingkar, kadang berbaris, mengikuti irama gendang dan puik-puik. Di Turikale, Pakarena bukan tontonan asing. Sanggar-sanggar lokal di kelurahan seperti Kelurahan Turikale dan Kelurahan Adatongeng kerap mengisi acara pernikahan, penyambutan tamu, hingga pesta rakyat.

Yang menarik, Pakarena di Turikale tidak selalu tampil dalam versi panggung besar. Kadang cukup lima sampai tujuh penari, satu pemusik, dan halaman rumah yang disulap jadi arena. Biaya sewa penari relatif terjangkau bagi warga setempat, dan itu sebabnya tarian ini tetap hidup di lingkaran keluarga, bukan hanya di festival kabupaten.

Accera Kalompoang dan Mappanre Tasi: Merawat Pusaka, Menolak Bala

Accera Kalompoang adalah tradisi pencucian benda pusaka kerajaan. Kata accera berarti mencuci, kalompoang merujuk pada benda-benda pusaka yang dianggap sakral. Di Maros dan sekitarnya, tradisi ini biasanya digelar pada bulan tertentu dalam kalender Hijriah, melibatkan prosesi adat, doa, dan arak-arakan. Warga Turikale yang masih keturunan bangsawan atau pemangku adat sering terlibat, meski pelaksanaannya tidak selalu berpusat di kecamatan ini.

Sementara Mappanre Tasi adalah tradisi melarung sesajen ke laut. Mappanre berarti memberi makan, tasi berarti laut. Nelayan dan warga pesisir Maros menjalankannya sebagai ungkapan syukur sekaligus permohonan keselamatan. Di Turikale, yang tidak berbatasan langsung dengan laut, tradisi ini lebih sering diikuti warga yang punya ikatan keluarga dengan kampung pesisir. Namun nilai-nilainya tetap diwariskan, terutama lewat cerita dan undangan haul keluarga. Kedua tradisi ini menunjukkan bahwa adat Bugis-Makassar tidak tunggal, ia berlapis dan menyesuaikan diri dengan ruang.

Menjaga Adat di Tengah Kota Kabupaten

Sebagai ibu kota Maros, Turikale menghadapi tekanan yang khas: pertumbuhan penduduk, pembangunan kantor, dan arus orang dari luar. Namun justru di tengah keramaian itu, adat mendapat panggung baru. Sekolah-sekolah di Turikale memasukkan Pakarena sebagai kegiatan ekstrakurikuler. Sanggar tari di kelurahan-kelurahan kecil tetap menerima undangan tampil. Accera Kalompoang dan Mappanre Tasi, meski tidak setiap bulan digelar, selalu menarik perhatian warga ketika berlangsung.

Bagi orang Turikale, menjaga tiga tradisi ini bukan soal menolak modernitas. Ini soal mengingat asal nama sendiri: Orang Dalam Diri. Adat adalah keluarga dekat yang tidak boleh dilupakan, bahkan ketika kota tumbuh semakin sibuk.

Video Pilihan

Pertanyaan yang Sering Muncul

Apa arti nama Turikale?

Turikale berasal dari bahasa Makassar yang berarti Orang Dalam Diri atau Keluarga Dekat.

Di mana Turikale berada?

Turikale adalah kecamatan di Kabupaten Maros, Sulawesi Selatan, dan menjadi ibu kota kabupaten tersebut.

Apa itu Tari Pakarena?

Tari Pakarena adalah tarian tradisional Bugis-Makassar yang gerakannya didominasi olah tangan dan kipas, biasanya diiringi gendang dan puik-puik.

Apa itu Accera Kalompoang dan Mappanre Tasi?

Accera Kalompoang adalah tradisi pencucian benda pusaka kerajaan, sedangkan Mappanre Tasi adalah tradisi melarung sesajen ke laut sebagai ungkapan syukur dan permohonan keselamatan.