TTurikale Pesona
Kuliner Khas Turikale: Sop Saudara, Coto Maros, dan Kue Tradisional Bugis-Makassar

Sop Saudara hingga Coto Maros: Peta Rasa Ibu Kota Kabupaten di Tujuh Kelurahan Turikale

Sop Saudara hingga Coto Maros memetakan rasa di tujuh kelurahan Turikale, ibu kota Kabupaten Maros, dari sarapan pagi hingga kue tradisional Bugis-Makassar.

Sop Saudara hingga Coto Maros: Peta Rasa Ibu Kota Kabupaten di Tujuh Kelurahan Turikale

Hal Penting

  • Turikale adalah ibu kota Kabupaten Maros, Sulawesi Selatan, dengan luas 29,93 km², kecamatan terkecil di kabupaten itu.
  • Nama Turikale berasal dari bahasa Makassar yang berarti Orang Dalam Diri atau Keluarga Dekat.
  • Kecamatan Turikale meliputi tujuh kelurahan dan menjadi pusat gedung pemerintahan serta cabang perusahaan.
  • Sop Saudara dan Coto Maros adalah dua kuliner khas yang membentuk peta rasa kawasan ini.
  • Kue tradisional Bugis-Makassar melengkapi lanskap kuliner harian warga Turikale.

Pagi di Jantung Maros

Pukul enam pagi, Jalan Jenderal Sudirman mulai padat. Pegawai menuju kantor bupati berhenti di warung pinggir jalan, memesan semangkuk Sop Saudara sebelum rapat pertama. Turikale, nama kecamatan yang berasal dari bahasa Makassar berarti Orang Dalam Diri atau Keluarga Dekat, memang berdenyut sebagai ibu kota Kabupaten Maros. Luasnya hanya 29,93 km², kecamatan terkecil di antara kecamatan lain di Maros, tetapi di sinilah gedung-gedung pemerintahan, cabang perusahaan, dan pusat keramaian berdiri. Tujuh kelurahan membentang di dalamnya, masing-masing menyimpan sudut rasa yang berbeda.

Sop Saudara jadi pembuka hari yang jujur. Kuah beningnya beraroma pala dan cengkih, isinya daging sapi, bihun, dan perkedel kentang yang hancur di sendok. Warung-warung di sekitar pusat kota menyajikannya sejak subuh. Harganya relatif terjangkau, cocok untuk sarapan cepat sebelum jam kantor. Warga menyebutnya sop saudara karena dulu sering disantap bersama sanak keluarga yang datang berkunjung ke rumah. Tidak ada klaim resmi soal asal-usulnya, tetapi di Turikale sop ini sudah menjadi menu pagi yang mapan.

Coto Maros dan Tujuh Kelurahan

Siang menjelang, aroma Coto Maros menyeruak dari dapur rumah makan di Kelurahan Turikale. Coto ini khas karena kuahnya keruh kecokelatan dari kacang tanah yang digiling halus, bukan santan encer seperti coto Makassar pada umumnya. Isinya jeroan sapi, daging, dan terkadang ayam, disantap dengan ketupat atau burasa. Seporsi coto disajikan panas dengan taburan bawang goreng dan sambal. Warung coto di Turikale biasanya buka dari pagi hingga sore, melayani pedagang pasar, sopir angkutan, dan pegawai yang pulang kantor.

Peta rasa tujuh kelurahan tidak seragam. Kelurahan yang dekat pasar dan terminal cenderung menyajikan porsi cepat saji untuk pekerja. Kelurahan yang lebih ke pinggir, dengan gang-gang sempit dan halaman rumah, justru menyimpan dapur rumahan yang memasak coto dalam jumlah terbatas. Perbedaan ini bukan hal resmi yang tercatat, tetapi terasa saat menyusuri warung dari pagi ke siang. Yang tetap sama: Coto Maros selalu hadir di meja makan warga, dari acara syukuran hingga makan siang biasa.

Kue Tradisional Bugis-Makassar

Sore hari, perhatian berpindah ke kue tradisional Bugis-Makassar. Di pasar dan kios-kios kecil Turikale, tersedia aneka kue yang akrab di lidah warga: bolu peca, kue lapis, barongko pisang, dan cucur. Kue-kue ini muncul di acara pernikahan, syukuran, dan hari raya. Bahan dasarnya sederhana, tepung beras, gula aren, kelapa parut, dan pisang. Cara membuatnya masih banyak dikerjakan secara rumahan, diwariskan dari ibu ke anak.

Menjelang sore, kios kue di sekitar pusat kota mulai ramai. Pembeli datang untuk oleh-oleh atau sekadar teman minum teh. Harga kue-kue ini relatif murah, dibungkus daun pisang atau plastik bening. Beberapa penjual menyediakan paket campur, memudahkan pembeli mencoba berbagai rasa sekaligus. Bagi pendatang, kue tradisional ini menjadi pintu masuk untuk mengenal dapur Bugis-Makassar tanpa harus duduk di restoran. Turikale, dengan segala kesibukannya sebagai ibu kota kabupaten, tetap menyisakan ruang untuk rasa rumahan yang tidak terburu-buru.

Pertanyaan yang Sering Muncul

Apa itu Sop Saudara yang dijual di Turikale?

Sop Saudara adalah sup kuah bening berisi daging sapi, bihun, dan perkedel kentang, beraroma pala dan cengkih. Di Turikale, sop ini umum disantap sebagai sarapan pagi.

Apa keunikan Coto Maros dibanding coto Makassar?

Kuah Coto Maros lebih keruh kecokelatan karena memakai kacang tanah giling halus, bukan santan encer. Isinya jeroan dan daging sapi, disantap dengan ketupat atau burasa.

Di mana bisa menemukan kue tradisional Bugis-Makassar di Turikale?

Kue tradisional seperti bolu peca, kue lapis, barongko, dan cucur tersedia di pasar dan kios kue di sekitar pusat Kota Turikale, terutama pada sore hari.

Mengapa Turikale disebut ibu kota Kabupaten Maros?

Turikale adalah pusat pemerintahan Kabupaten Maros. Di wilayah ini berdiri gedung-gedung pemerintahan, cabang perusahaan, dan pusat keramaian, dengan tujuh kelurahan di dalamnya.